Home arrow Agenda Sehati arrow Tips & Trick arrow 10 Resep Sukses Bangsa Jepang
PDF Print E-mail
Monday, 24 November 2008

10 RESEP SUKSES BANGSA JEPANG

 

1. KERJA KERAS

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras.

Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat

tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun),

 

Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680

jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil

dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan

 

47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang

boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh

5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan "agak

memalukan" di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk

"yang tidak dibutuhkan" oleh perusahaan.

 

2. MALU

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri

(bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era

samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk

 

ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena "mengundurkan

diri" bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah

korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin

adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek

atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang

memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya

dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap

lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang

sudah menjadi kesepakatan umum.

 

3. HIDUP HEMAT

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti

konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di

masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat

 

terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di

supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata

sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong

harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup.

Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada

pukul 20:00.

 

4. LOYALITAS

Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan

tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan

Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.

Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun.

Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau

menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri

sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

 

5. INOVASI

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam

meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang

diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio

 

Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape

tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip

Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan

 

membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama

puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu.

Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model

 

walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.

Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang

Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan

inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih

cepat dan murah.

 

6. PANTANG MENYERAH

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan

pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang

menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat

 

tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin)

datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner.

Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak

hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu,

bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk

Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi,

maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di

tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul

dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi

besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun

berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan

juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana

Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari

bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai

dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di

era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika

menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain.

Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik

bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini

mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu

kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

 

7. BUDAYA BACA

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta

listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa

sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau

 

berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak

penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk

materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA.

 

Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang

membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas

masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca

 

orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan

buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya

legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai

 

pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus

berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang

sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku

asingnya diterbitkan.

 

 

8. KERJASAMA KELOMPOK

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu

bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya

ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di

dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu,

mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok.

Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang.

Ada anekdot bahwa "1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu

orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan

bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok" .

Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan "rin-gi" adalah ritual

dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam "rin-gi".

 

9. MANDIRI

Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang

paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus

membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan

siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang

menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa

perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya

sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak

meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di

Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan

kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang

ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

 

10. JAGA TRADISI

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang

kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah

untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.

 

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari

anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan

kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

 

Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata "tidak" untuk

apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati

dalam pergaulan dengan orang Jepang karena "hai" belum tentu "ya" bagi

orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di

Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika

yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk

melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan

pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk

beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia

pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di

dunia.

 

Kalihatannya kesuksesan bangsa Jepang seperti diuraikan diatas adalah

karena mereka secara tidak langsung dan tidak sadar telah melakukan apa

yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. Semoga hal ini

dapat memacu kita sebagai umat Islam untuk mengikuti apa yang sudah

diperintahkan bagi kita sehingga kesuksesan dunia dan akhirat dapat

kita raih. Aamiiin.
Last Updated ( Monday, 24 November 2008 )
 
Next >
Copyright @2008 CU Sehati